06 January 2009

Akifer

1. Tipologi akifer

Kondisi dan distribusi system akifer dalam sistem geologi dikontrol oleh faktor litologi, stratigrafi dan struktur dari endapan-endapan geologi. Litologi adalah penyusun secara fisik meliputi komposisi mineral, ukuran butir dan kemas dari endapan-endapan atau batuan yang membentuk sistem geologi. Stratigrafi menggambarkan kondisi geometri dan hubungan umur antar lapisan, atau satuan batuan dalam sistem geologi. Sedangkan struktur merupakan bentuk/sifat geometri dari sistem geologi yang diakibatkan deformasi yang terjadi setelah batuan terbentuk. Pada saat sendimen yang belum terkonsolidasi/kompak, kontrol yang berperan adalah litologi dan stratigrafi. Pengetahuan akan ketiga faktor di atas memberikan arahan kepada pemahaman karakteristik dan distribusi sistem akifer (Freeze dan Cherry, 1979).

Kesamaan iklim dan kondisi geologi di suatu daerah akan memberikan kesamaan sistem airtanah. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap karakter fisika dan kimia serta kualitas airtanah dalam sistem tersebut. Berdasarkan karakter tersebut dan kondisi geografis serta morfologis keberadaan dan penyebaran airtanah di Indonesia, maka Puradimadja (1993) mengajukan 5 tipologi sistem akifer untuk wilayah Indonesia yaitu:

1. Tipologi sistem akifer Endapan Gunungapi
2. Tipologi sistem akifer Endapan Aluvial
3. Tipologi sistem akifer Endapan Sedimen
4. Tipologi sistem akifer Endapan Kristalin dan Metamorf
5. Tipologi sistem akifer Endapan Glasial

2. Media Penyusun Akifer

Berdasarkan sifat fisik batuan, secara garis besar ada 2 jenis media penyusun akifer, yaitu sistem media pori dan sistem media rekahan. Kedua sistem ini memiliki karakter airtanah yang berbeda satu sama lain. Pada sistem media berpori, air tanah mengalir melalui rongga antar butir yang terdapat dalam suatu batuan misalnya batupasir dan batuan aluvial. Pada sistem media rekahan, air mengalir melalui rekahan-rekahan yang terdapat pada batuan yang terkena tektonik kuat, pada batugamping, batuan metamorf, dan lava. Rekahan terjadi selain proses tektonik, juga akibat proses pelarutan.

3. Penggolongan Terminologi Lapisan Akifer dan Bukan Akifer

Berdasarkan kemampuan batuan/tanah pelapukan untuk menyimpan dan mengalirkan air terdapat 4 jenis batuan yang membagi jenis-jenis tipologi akifer di atas, yaitu:

3.1 Akifer (aquifer)
Lapisan yang dapat menyimpan dan mengalirkan air dalam jumlah yang ekonomis. Contoh : pasir, kerikil, batupasir, batugamping rekahan.

3.2 Akiklud (aquiklud)
Lapisan yang mampu menyimpan air, tetapi tidak dapat mengalirkan dalam jumlah yang berarti misalnya lempung, serpih, tuf halus, lanau.

3.3 Akifug (aquifug)
Lapisan batuan yang kedap air, tidak dapat menyimpan dan mengalirkan air, misalkan batuan kristalin, metamorf kompak.

3.4 Akitar (aquitar)
Lapisan yang dapat menyimpan air dan mengalirkan dalam jumlah yang terbatas, misalnya lempung pasiran (sandy clay).

Weathering Process

PELAPUKAN FISIKA

Pelapukan fisika terjadi akibat hancurnya material utama (induk) kemudian diikuti oleh pengurangan ukuran butirnya. Batuan hancur akibat adanya tekanan (stess) yang bekerja sepanjang zona lemah dari material tersebut antara lain : bidang perlapisan dan rekahan.

Tekanan yang mengakibatkan peristiwa disintegrasi dibentuk karena adanya pengembangan (expansi) dari batuan atau mineral itu sendiri atau akibat tekanan yang disebabkan oleh material yang berasal dari luar. Seperti pada pelapukan kimia, proses pelapukan fisika juga dipengaruhi oleh proses endogen dan eksogen. Rata-rata faktor yang paling berpengaruh dari pelapukan ini adalah iklim dan vegetasi (eksogen). Faktor lainnya berkaitan dengan struktur dan komposisi dari batuan itu sendiri.


EKSPANSI BATUAN DAN MINERAL

Proses ekspansi batuan dan mineral pada dasarnya dapat dibagi menjadi :

  • Thermal Expansion : pengaruh panas dapat mengganggu sifat fisik dari batuan. Batuan dengan konduktivitas suhu rendah akan sulit mengalirkan panas begitu pula sebaliknya. Panas ini dapat berpengaruh langsung terhadap proses ekspansi (pengembangan) batuan itu sendiri.

  • Unloading : proses ekspansi dari fragmen batuan muncul ketika tekanan (beban) yang bekerja pada batuan tersebut hilang setelah terjadinya erosi. Proses erosi yang berpengaruh sangat besar dalam proses ekspansi ini. Perlu diketahui pula proses erosi tersebut dikontrol secara langsung oleh morfologi dari batuan tersebut berada.

  • Hydration dan Swelling : ekspansi muncul ketika mineral terbentuk atau ketika mineral-mineral mengalami proses alterasi dengan penambahan air kedalam struktur mineral atau batuan tersebut. Salah satu contoh dari proses ekspansi ini adalah mineral lempung. Mineral lempung ini dapat mengalami pengembangan dalam ukuran volume diakibatkan adanya proses penambahan air dalam struktur kimianya. Pada formasi lempung proses ekspansi yang disebabkan oleh kadar air ini seringkali disebut dengan swelling.

  • Salt Weathering : proses hidrasi dari salt (garam) seringkali terjadi di dalam pori bangunan yang terbuat dari batu dan semen. Proses ini dapat membentuk tekanan (stress) yang berakibat pada proses disintegrasi pada dinding- dinding bangunan tersebut.


PERTUMBUHAN DALAM PORI

Proses yang menyebabkan tekanan selain yang berasal dari luar material juga berasal dari dalam material itu sendiri. Proses ini dapat muncul apabila terdapat material yang tumbuh di dalam pori atau rongga kosong batuan.


Banyak faktor yang menjadi penyebab munculnya proses ini salah satu diantaranya adalah adanya rekahan kecil (microcrack) yang dibentuk oleh proses-proses yang terjadi di dalam bumi. Proses-proses pembentukan rekahan kecil (microcrack) diperkirakan telah terjadi sebelumnya sebelum batuan tersebut tersingkap di permukaan. Pori atau rongga kosong ini tidak mengalami ekspansi secara tiba-tiba dalam arah atau dimensi tertentu semuanya berbeda tergantung dari perbedaan beban (tekanan) yang dialami daerah satu dengan yang lainnya. Rekahan kecil (microcrack) merupakan faktor dominan sebagai pemicu awal dalam proses pertumbuhan pori.


Selain itu tumbuhan dan organisme dapat membantu dalam proses disintegrasi. Namun tumbuhan ini memiliki pengaruh paling besar pada batuan yang telah terubah menjadi tanah (soil). Akar tanaman seringkali tumbuh pada rekahan dan merubah struktur batuan utama menjadi material tanah (soil). Akan tetapi pengaruh dari tanaman dalam proses pertumbuhan pori diperkirakan kurang begitu dominan bila dibandingkan dengan proses lainnya.


Faktor utama yang paling banyak dijumpai terkait dengan proses pertumbuhan pori adalah kristalisasi es (frost action) atau kristalisasi mineral-mineral lainnya dalam pori. Pada sistem tertutup diperkirakan volume dari air akan meningkat sebesar 9% apabila air tersebut mengalami proses kristalisasi menjadi es. Perubahan inilah yang menyebabkan tekanan hidrostatik pada hampir setiap jenis batuan. Frost action dapat bekerja paling efektif ketika batuan memiliki kejenuhan tinggi sebelum mengalami proses pembekuan. Jika lebih dari 20% rongga pori dalam keadaan kosong sebelum terjadi frost action maka kemungkinan besar ekspansi dari es yang terbentuk akan lebih kecil dari kekuatan batuan, sehingga proses disintergrasi tidak akan muncul. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa intensitas dari frost action sebagian besar dipengaruhi oleh struktur pori atau besarnya rongga pori.


Mineral juga dapat mengalami pertumbuhan dalam pori mirip dengan proses frost action. Tekanan yang dihasilkan oleh kristalisasi mineral dipercaya lebih besar daripada tekanan akibat frost action tetapi semuanya tergantung pada konsentrasi dari ion-ion penyusun larutannya. Ion-ion yang cenderung diendapkan : sulfat, karbonat, klorida, dan ion-ion lainnya dengan mobilitas tinggi (Ca, Na, Mg, K). Selain itu proses kristalisasi mineral lebih intensif di daerah dengan iklim kering dimana ion-ion cenderung mobilitasnya menjadi rendah (immobile) karena proses pencucian (leaching) yang tidak sempurna. Pada prinsipnya kristal tumbuh pada berbagai kondisi yakni :

  • Penurunan kelarutan garam (salt) seiring dengan menurunnya temperatur.
  • Efek dari ion-ion ketika terjadi pencampuran larutan kaya garam (salt rich).
  • Proses evaporasi yang terjadi.


PENGARUH AIR TERHADAP PROSES PELAPUKAN FISIKA DAN KIMIA

Dari pemaparan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa air memiliki peranan yang sangat besar dalam proses pelapukan fisika terutama dalam proses disintegrasi. Hidrasi, frost action, pertumbuhan kristal, dan swelling semuanya memerlukan air sebagai komponen dasar meskipun jumlah air yang dibutuhkan tidak begitu besar. Oleh karena itu disadari bahwa adanya keterkaitan antara iklim dan pelapukan di suatu daerah. Pelapukan fisika pada umumnya lebih dominan di daerah dimana pengendapan oleh kristalisasi es telah berlangsung dan temperatur pada umumnya mendekati titik beku. Kenyataan ini menunjukkkan pentingnya frost action sebagai alat utama dalam proses pelapukan serta fakta bahwa daerah dengan siklus iklim salju akan lebih berpotensi sebagai tempat pelapukan fisika terkait dengan frost action. Pada daerah-daerah tertentu kadangkala karakter dari iklim akan memiliki pengaruh yang lebih kecil dalam proses pelapukan fisika berbeda dengan kenyataan seperti yang telah disebutkan di atas. Oleh karena itu sangat penting sekali untuk memahami hubungan antara iklim-litologi-sistem pelapukan dari suatu daerah untuk mengetahui mekanisme pelapukan yang bekerja di daerah tersebut secara detail.


Karbonisasi

Karbonisasi meliputi proses perombakan batubara dengan keadaan anaerob (tanpa oksigen) pada temperatur rendah 459-7000 C dan pada temperatur tinggi 900-12000 C menghasilkan material padat dan berpori yang merupakan residu proses karbonisasi disebut kokas atau arang serta gas yang mudah menguap (Tsai, 1980).

Pada umumnya material padat terdiri atas semi kokas yang terbentuk dari batubara yang yang tidak mengalami pematangan dan kokas yang berasal dari batubara yang telah mengalami pematangan.

Selama karbonisasi batubara mengalami beberapa tahap perubahan fisika dan kimia. Perubahan fisika terdiri atas pelunakan, aliran material, penggabungan dan pengerasan, sedangkan perubahan kimia terdiri atas perekahan polimerisasi dan penguapan. Faktor-faktor di atas dapat mempengaruhi kualitas dari batubara dalam hal komposisi petrografinya.

Type batubara dicirikan oleh variasi maseral dan kandungan mineral dalam batubara (Cook, 1975; Stach, 1985). Pembentukan type ini sangat dikontrol oleh berbagai faktor, diantaranya oleh variasi spatial dan temporal dari iklim purba, umur geologi, proses tektonik, kondisi ekologi lingkungan pengendapan tumbuhan pembentuk batubara dan komunitas tumbuhannya. Type batubara terjadi pada fase biokimia.

Rank atau peringkat batubara adalah tingkat kematangan material organik yang dimulai dari tingkat paling rendah berupa lignit, sub-bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit hingga meta antrasit. Tahap karbonisasi ini didominasi oleh proses geokimia, sehingga faktor terpenting dalam pembentukan peringkat batubara ini adalah temperatur, tekanan dan waktu.

Pengamatan petrografi batubara pada dasarnya mencakup dua hal yaitu identifikasi kelimpahan serta komposisi maseral yaitu maseral vitrinit, inertinit dan liptinit (Tabel 1). Batubara dengan komposisi inertinit tinggi dan vitrinit rendah akan cenderung menghasilkan batubara berkekuatan rendah sedangkan apabila vitrinit yang tinggi dan inertinit yang rendah batubara tersebut akan memiliki kekuatan sedang. Namun batubara dengan kekuatan yang tinggi akan didapatkan apabila komposisi batubara menunjukkan kandungan vitrinit dan inertinit yang berimbang. Kekuatan batubara dapat pula mempengaruhi peringkat batubara, melalui petrografi dapat diketahui peringkat batubara melalui reflaktansi vitrinit. Batubara dengan reflaktansi vitrinit bernilai 1,2-1,4 dapat menghasilkan batubara dengan kekuatan yang tinggi.

The Day The Earth Stood Still


In the original movie, a flying saucer orbits Earth, and lands in Washington, DC, on the Mall. Klaatu (Michael Rennie) steps out and is shot by a jumpy soldier. Gort (Lock Martin), an indestructible robot steps out of the spacecraft and proceeds to melt all the weapons, including tanks. Later, the Earth comes to realize that Gort has used very little of his power to make this happen.

While lying on the ground, Klaatu orders Gort to stop, and is then taken by the military to a hospital from which he later escapes in order to learn more about this planet called Earth and its human inhabitants. He meets Helen Benson (Patricia Neal) and her son Billy (Billy Gray); takes Klaatu on a tour of Washington, DC; and finally stops in front of the Lincoln Memorial. Klaatu reads the words uttered by Lincoln many years ago and realizes that there might be hope for Earth.

When they begin to suspect the alien man, he reveals himself, along with the news that Gort is a member of a race of super-robot enforcers invented to keep the peace of the galaxy and will destroy the Earth if provoked. Klaatu is pursued and shot and killed by the military. Before Klaatu dies, he tells Helen to go to Gort, and say the words "Klaatu barada nikto." If she does not, Klaatu tells her Gort will destroy the Earth. Helen makes her way to the ship and finds Gort. As the robot moves towards her, she repeats the phrase over and over. The robot picks her up and takes her into the ship. It then retrieves Klaatu's body and, through their alien science, resurrects Klaatu.

The 2008 remake about an alien and his indestructible robot will star Keanu Reeves as Klaatu, Jennifer Connelly as Helen Benson, Jaden Smith as Jacob, and Kathy Bates. Gort has not been cast at this time and will most likely be created using SFX.

The remake of The Day the Earth Stood Still will supposedly remain true to the original movie. However, there is a chance the remake will more likely remain true to the short story upon which the 1951 movie is based. In either case, the alien weaponry seems to have been upgraded. In addition to a city going dark, and a very brief look at the new Gort, the film trailer shows a cloud of black smoke, capable of rapid movement and disintegrating matter on contact.

In the 1951 movie, Gort is described as one of a race of robots created by the planets to maintain peace throughout the galaxy. If the 2008 remake follows "Farewell to the Master," the short story by Harry Bates upon which the 1951 movie is based will be used for the ending, which will not be revealed here.

(Cinema21)

05 January 2009

Teluk Bayur Village

Kampung Teluk Bayur terletak di Selatan sisi Sungai Segah Kab. Berau Kalimantan Timur. Dihuni oleh suku asli Berau bermata pencaharian sebagai nelayan. Dapat ditempuh kira-kira 15 menit dari kota Berau. Terdapat sisa-sisa tunnel tambang batubara di daerah ini, selain itu terdapat pula rembesan minyak yang berasal dari sumur air tua yang telah lama ditutup. Sumur dengan rembesan minyak ini dapat ditemukan di areal rumah sakit setempat dan masih menunjukkan tanda-tanda adanya rembesan meskipun telah ditimbun. Kuat dugaan rembesan minyak ini terletak dalam jalur patahan Birang yang berarah Utara-Selatan. Sedangkan source-nya kemungkinan berasal dari arah Barat yakni satuan batuan yang tidak lebih tua dari Oligosen.

TMII


Kepadatan pengunjung TMII (Taman Mini Indonesia Indah) luar biasa akhir-akhir ini. Untuk menikmati berbagai fasilitas hiburan yang ada terkadang harus rela antre cukup lama. TMII menjadi salah satu sasaran puluhan ribu orang untuk mengisi libur akhir tahun 2008. Suasana padat bercampur dengan panas teriknya kota Jakarta tidak menyurutkan niat pengunjung untuk berwisata ke tempat ini.